Sejarah Khawarij: Dari Tahkim Shiffin Hingga Instabilitas Irak

Khawarij - Tidak ada hukum selain hukum Allah

Irak Tidak Pernah Benar-Benar Tenang Setelah Karbala

Bukan Karena Politik Saja, Tapi Karena Ideologi

Setelah Mukhtar ats-Tsaqafi tumbang di tangan Mus‘ab bin Zubair (67 H), banyak orang mengira Irak akhirnya akan tenang.

Ternyata tidak…

Justru setelah itu, muncul ancaman yang jauh lebih sulit dikendalikan.

  • Bukan pendukung Ahlul Bait
  • Bukan pendukung Zubair
  • Bukan pula pendukung Umayyah

Tapi kelompok yang memandang hampir semua pihak telah menyimpang dari “hukum Allah” menurut pemahaman mereka.

Mereka adalah Khawarij.

Kelompok ini sebenarnya sudah muncul sejak masa Ali bin Abi Thalib. Namun setelah konflik Mukhtar dan Zubairiyah melemahkan Irak, mereka menemukan momentum baru. Irak dan Persia yang lelah perang menjadi lahan subur bagi gerakan mereka.

Berbeda dengan gerakan politik lain yang masih memperdebatkan siapa yang berhak menjadi khalifah, Khawarij membawa slogan keras:

“La hukma illa liLlah”
Tidak ada hukum selain hukum Allah

Akar Masalah: Tahkim, Slogan, dan Lahirnya Khawarij

Akar kemunculan Khawarij bermula setelah Perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Korban sudah sangat banyak, suasana melelahkan, dan Ali menerima tahkim (arbitrase damai), yaitu menunjuk manusia untuk mencari jalan tengah agar perang berhenti.

Sebagian pasukannya marah lalu mengangkat slogan:

Tidak ada hukum selain hukum Allah

Menurut mereka, urusan ini tidak boleh diputuskan oleh manusia. Dari sini mereka menilai Ali telah melakukan kesalahan besar karena menerima tahkim, lalu mereka keluar dari barisan Ali.

Kelompok yang “keluar” inilah yang kemudian dikenal sebagai Khawarij.

Masalahnya bukan pada kalimat “hukum Allah”, tetapi pada cara memahami kalimat itu.

“Kalimatnya benar, tetapi maksudnya salah.”
— Ali bin Abi Thalib

Cara Pikir yang Kaku dan Keras

Dari slogan itu, cara berpikir mereka berkembang menjadi sangat kaku:

  • Muslim yang melakukan dosa besar → dianggap kafir
  • Pemimpin yang tidak sesuai pemahaman mereka → kafir
  • Bahkan sebagian sahabat Nabi pun bisa mereka salahkan
  • Siapa yang mereka anggap kafir → halal darahnya

Ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Ini sudah berubah menjadi cara pandang yang berbahaya.


Tragedi Nahrawan (38 H)

Awalnya Ali tidak memerangi mereka, beliau memilih berdialog. Namun ketika Khawarij mulai mengganggu masyarakat, membunuh orang yang tidak sepaham, dan membuat kekacauan, Ali terpaksa bertindak.

Terjadilah Perang Nahrawan.

Banyak Khawarij tewas di sana, tetapi pahamnya tidak ikut mati. Yang selamat menyebar ke Irak dan Persia.


Berujung pada Pembunuhan Ali

Sebagian yang selamat pasca Nahrawan menyimpan dendam. Mereka menyimpulkan:

  • Ali salah
  • Muawiyah salah
  • Amr bin Ash salah

Tiga orang ini harus dibunuh.

Rencana pembunuhan serentak pun dibuat. Yang berhasil hanya satu: Ali bin Abi Thalib, dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang dari Khawarij.

Masalah awalnya bukan politik, bukan pula kekuasaan, tetapi cara memahami agama yang kaku dan merasa diri paling benar.


Khawarij Menemukan Momentum Baru di Irak dan Persia

Setelah Mukhtar dan Zubairiyah melemahkan Irak, wilayah ini seperti kehilangan kendali. Di sinilah Khawarij bangkit lagi.

Mereka tidak tertarik merebut ibu kota kekuasaan. Mereka bergerilya:

  • Berpindah-pindah
  • Menyerang kota
  • Membunuh pejabat
  • Merampok jalur logistik

Tokoh paling terkenal dari fase ini adalah Qathari bin al-Fuja’ah, yang bahkan mencetak koin atas namanya sendiri di wilayah Persia.

Pasukan Umayyah dibuat kewalahan bertahun-tahun.

Mus‘ab bin Zubair tidak mampu menuntaskan mereka. Abdul Malik bin Marwan mengejarnya. Baru pada masa al-Hajjaj bin Yusuf, gerakan ini mulai bisa ditekan secara militer. Itu pun bukan hilang, hanya melemah.


Kenapa Irak Selalu Sulit Dikendalikan?

Konflik ini bukan berlangsung 1–2 tahun.

Sejak Nahrawan (38 H) hingga mapannya Umayyah di Irak di awal abad pertama Hijriah, Khawarij menjadi faktor besar instabilitas wilayah ini.

Inilah salah satu alasan kenapa dalam sejarah Islam, Irak selalu disebut sebagai wilayah paling sulit dikendalikan.

Bukan hanya karena politik, tapi karena ada kelompok ideologis yang merasa mereka saja yang benar, dan semua yang lain salah.


Kesimpulan

Irak setelah Karbala bukan hanya terluka karena tragedi. Irak berubah menjadi medan perang ideologi.

Khawarij adalah salah satu alasan kenapa luka itu tidak pernah cepat sembuh.

Kalimat yang mereka pegang sebenarnya benar, tetapi cara memahaminya yang keliru, membawa pada:

  • Mudah mengkafirkan
  • Mudah menghalalkan darah
  • Tragedi Nahrawan
  • Pembunuhan Ali bin Abi Thalib

Dampaknya terasa di Irak dan Persia selama puluhan tahun.

Mus‘ab bin Zubair memburu mereka — tidak tuntas.
Abdul Malik bin Marwan mengejar — tidak selesai.
Al-Hajjaj bin Yusuf menekan habis-habisan — hanya melemahkan.

Karena yang sulit dibunuh itu bukan orangnya… tapi cara berpikirnya.

Maka pertanyaannya bukan lagi,
“Di mana Khawarij sekarang?”

Tapi,
“Apakah pola pikir itu kadang muncul di sekitar kita… atau bahkan tanpa sadar, di dalam diri kita?”

— Muslim Insight