Battle of the Zab: Runtuhnya Umayyah dan Lahirnya Abbasiyah
Battle of the Zab: Runtuhnya Umayyah dan Lahirnya Abbasiyah
Dalam buku The Great Islamic Conquests AD 632–750 karya David Nicolle (2014), disebutkan bahwa sebuah peristiwa besar terjadi lebih dari dua belas abad silam sebuah momen yang mengubah arah sejarah dunia Islam. Peristiwa itu adalah Battle of the Zab, perang penentu yang memperhadapkan kaum revolusioner Abbasiyah dengan Kekhalifahan Bani Umayyah.
Pertempuran ini bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan titik akhir bagi dinasti yang telah berkuasa hampir sembilan dekade, sekaligus gerbang lahirnya tatanan politik baru di bawah panji Abbasiyah.
Kekalahan Penentu di Sungai Zab
Namun kemenangan di medan Zab hanyalah satu langkah dalam permainan yang jauh lebih besar dalam percaturan politik saat itu. Pertempuran tersebut benar-benar meluluhlantakkan kekuatan militer Umayyah dan memutus harapan mereka untuk mempertahankan kekuasaan melalui jalur senjata.
Dalam pertempuran di tepi Sungai Zab Besar, pasukan tempur Umayyah yang selama puluhan tahun dikenal tangguh dan berpengalaman mulai goyah. Pasukan yang terdiri dari veteran berbagai front peperangan itu terdesak oleh gelombang serangan Abbasiyah yang lebih terorganisasi dan bersemangat tinggi.
Seiring melemahnya garis pertahanan, mundurnya pasukan berubah menjadi kekacauan. Upaya sebagian prajurit untuk menyeberangi sungai guna menyelamatkan diri justru berujung pada kematian akibat arus deras dan situasi yang tidak terkendali. Kekalahan tersebut bukan hanya bersifat taktis, tetapi juga simbolik yang menandai runtuhnya superioritas militer yang selama ini menjadi fondasi kekuasaan Umayyah.
Akhir Marwan II dan Berakhirnya Umayyah di Timur
Kekalahan itu memaksa khalifah terakhir Umayyah, Marwan II, melarikan diri dari Irak ke Suriah, lalu terus bergerak ke Mesir. Namun beberapa bulan kemudian ia tertangkap dan terbunuh tepatnya di wilayah Busir, dekat Fustat (kota tua yang menjadi cikal bakal Kairo), pada tahun 750 M / 132 H, yang menandai berakhirnya kekuasaan Umayyah secara resmi di Timur.
Akan tetapi, runtuhnya barisan di tepi Sungai Zab dan kematian Marwan II tidak serta-merta menghapus bayang-bayang dinasti lama. Selama para anggota keluarga Umayyah masih hidup, mereka tetap menjadi simbol legitimasi yang bisa menghimpun kembali dukungan. Dalam politik abad ke-8, simbol sering kali sama berbahayanya dengan pedang.
Karena itulah, setelah kemenangan militer diraih, perhatian kekuasaan baru beralih pada langkah berikutnya: memastikan bahwa permainan tidak berbalik arah.
Operasi Pembersihan: Mengakhiri Dinasti Lama
Setelah kemenangan Abbasiyah dalam Pertempuran Zab (132 H / 750 M), fase berikutnya adalah konsolidasi kekuasaan. Salah satu langkah paling keras dalam proses itu adalah pembersihan terhadap keluarga Umayyah.
Mengapa terjadi “pembersihan”?
Dinasti Abbasiyah baru saja menggulingkan kekuasaan lama yang telah memerintah hampir 90 tahun. Selama anggota keluarga Umayyah masih hidup dan bebas, selalu ada potensi klaim tandingan atas kekhalifahan. Dalam politik abad pertengahan, itu berarti ancaman perang saudara baru.
Karena itu, khalifah pertama Abbasiyah, Abu al-Abbas as-Saffah, memilih langkah ekstrem: menyingkirkan hampir seluruh cabang keluarga Umayyah yang dapat menjadi simbol perlawanan.
Perjamuan Berdarah
Peristiwa ini dikenal dalam banyak sumber klasik sebagai salah satu episode paling dramatis dalam transisi kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah.
Setelah kemenangan Abbasiyah dan terbunuhnya Marwan II, khalifah baru, Abu al-Abbas as-Saffah, berusaha memastikan tidak ada lagi klaim tandingan dari keluarga Umayyah.
Meski kekuasaan militer sudah diraih, legitimasi politik belum sepenuhnya aman. Selama para pangeran Umayyah masih hidup, potensi pemberontakan tetap ada.
Menurut sejumlah kronik seperti al-Tabari dan al-Mas‘udi, sejumlah bangsawan dan anggota keluarga Umayyah diundang ke sebuah jamuan dengan janji keamanan (aman). Lokasinya disebut-sebut di wilayah Irak, dekat pusat kekuasaan Abbasiyah saat itu. Mereka diyakinkan bahwa masa lalu akan dilupakan dan mereka tidak akan disakiti.
Ketika para tamu telah berkumpul dan suasana jamuan berlangsung, pasukan Abbasiyah tiba-tiba masuk aula dan menyerang. Para bangsawan Umayyah yang tak punya persiapan apapun dipukul dan dibunuh di tempat.
Beberapa riwayat menggambarkan mereka dibantai dengan tongkat dan pedang, lalu tubuh-tubuhnya ditumpuk dan ditutup permadani, sementara jamuan tetap berlangsung di atasnya sebuah simbol bahwa kekuasaan lama benar-benar “ditindih” oleh rezim baru.
Kisah ini memang bernuansa dramatis dan kemungkinan dilebih-lebihkan dalam tradisi sejarah, tetapi konsensusnya jelas: sebagian besar elite laki-laki Umayyah yang tertangkap saat itu memang dieksekusi.
Penghapusan Simbol dan Pengecualian Umar II
Dalam fase awal konsolidasi, tindakan Abbasiyah tidak hanya menyasar elite yang masih hidup. Sejumlah sumber klasik menyebutkan bahwa makam beberapa khalifah Umayyah di Damaskus turut dibongkar sebagai simbol berakhirnya legitimasi dinasti lama
Namun, riwayat juga mencatat adanya pengecualian. Makam Umar II dilaporkan tidak diganggu. Reputasinya sebagai khalifah yang saleh dan relatif adil membuatnya tetap dihormati, bahkan oleh pihak yang menggulingkan dinastinya.
Umayyah Bangkit di Barat
Peristiwa ini praktis memutus garis politik Umayyah di Timur. Hanya sedikit yang berhasil lolos. Yang paling terkenal adalah Abd al-Rahman I, seorang pangeran muda yang kemudian melarikan diri ke Andalusia dan pada 756 M mendirikan kembali kekuasaan Umayyah yang dalam historiografi modern kerap disebut sebagai Umayyah II. Ironisnya, dari pelarian inilah justru lahir entitas politik baru yang kelak bertahan berabad-abad di Barat Islam.
Catatan Penting
Perlu dicatat bahwa detail-detail adegan jamuan (seperti makan di atas jasad) bersumber dari kronik yang ditulis beberapa dekade kemudian. Sejarawan modern cenderung melihat bagian itu sebagai kemungkinan simbolik atau dramatisasi, meski fakta pembantaian elite Umayyah sendiri dianggap historis.
Peristiwa jamuan ini kemudian memperkuat julukan Abu al-Abbas sebagai as-Saffah “yang banyak menumpahkan darah” sebuah citra keras yang melekat pada awal berdirinya Dinasti Abbasiyah.
Gabung dalam percakapan