Apakah Islam Akan Bertahan Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ?

Pasukan berkuda di kejauhan, simbol pasukan Usamah bin Zaid
Apakah Islam Akan Bertahan Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ?

Apakah Islam Akan Bertahan Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ?

Hari itu Madinah tidak hanya berduka. Rasulullah ﷺ wafat. Wahyu terhenti. Dan kabar buruk datang bertubi-tubi dari segala penjuru Jazirah Arab. Kabilah-kabilah murtad, ada yang menolak zakat, dan nabi-nabi palsu mulai berani tampil.

Di tengah kondisi genting itu, muncul satu pertanyaan besar, bahkan di hati sebagian kaum Muslimin:

“Apakah Islam akan bertahan setelah Nabi wafat?”

Jawaban sejarah ternyata tidak datang dari pidato panjang, melainkan dari satu sikap tegas. Abu Bakar ash-Shiddiq baru saja diangkat sebagai khalifah. Negara belum stabil. Ancaman datang dari dalam dan luar.


Keputusan Abu Bakar yang Tidak Ditawar

Sebelum wafat, Rasulullah ﷺ telah memerintahkan satu hal penting: mengirim pasukan Usamah bin Zaid ke Romawi.

Masalahnya, Usamah masih sangat muda, sementara Madinah sedang rapuh. Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar dengan wajah tegang dan suara berat.

“Wahai Khalifah Rasulullah, bagaimana mungkin engkau tetap mengirim pasukan Usamah ke Romawi, sementara Madinah terancam dan kaum murtad mengepung dari segala arah? Bukankah lebih utama menyelesaikan persoalan di dalam negeri?”

Abu Bakar menatap Umar dengan tenang namun tegas. Bukan tatapan orang yang berdebat, melainkan tatapan orang yang sedang bersaksi.

“Demi Allah, seandainya anjing-anjing menyeretku di jalanan Madinah, aku tidak akan membatalkan pasukan yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ.”

Sikap ini bukan karena keras kepala atau nekat, melainkan karena Abu Bakar memahami satu prinsip besar:

“Kemenangan tidak lahir dari kalkulasi semata, tetapi dari kesetiaan kepada perintah Nabi.”


Pasukan Muda dan Pukulan Psikologis

Pasukan itu tetap berangkat, dipimpin Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang bahkan belum genap dua puluh tahun. Banyak yang meremehkan.

Namun justru di situlah kekuatannya. Keberangkatan pasukan ini mengirim pesan keras ke seluruh Jazirah Arab:

  • Islam tidak panik
  • Madinah tidak goyah
  • Kepemimpinan tidak runtuh, tetap berjalan

Bahkan kelompok murtad yang berniat memberontak mulai gentar:

“Jika pasukan semuda itu saja berani menghadapi Romawi, bagaimana mungkin Madinah bisa dikalahkan?”

Tanpa disadari, ketaatan Abu Bakar menjadi senjata psikologis paling kuat.

Imam Ibn Taymiyyah dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah menyebut langkah Abu Bakar sebagai keputusan politik paling visioner dalam sejarah Islam awal, keputusan yang lahir dari kepatuhan spiritual, bukan sekadar kecerdikan diplomasi.


Tidak Mengubah yang Telah Ditetapkan Nabi

Ada satu hal lagi yang Abu Bakar jaga mati-matian: Usamah tetap menjadi panglima.

Sebagian sahabat mengusulkan pergantian karena usia. Namun Abu Bakar menolak dengan tegas.

“Apakah aku harus mencabut bendera yang telah dikibarkan Rasulullah ﷺ?”

Keputusan ini menjaga dua hal sekaligus:

  • Ke luar: menunjukkan kekuatan
  • Ke dalam: menjaga stabilitas Madinah

Tokoh-tokoh besar seperti Umar, Ali, dan para sahabat senior tetap berada di Madinah. Artinya, pusat kepemimpinan tetap kokoh dan ancaman kemurtadan tidak mendapat celah.

Ini bukan sekadar strategi politik, melainkan ketundukan total pada sunnah Rasulullah ﷺ.


Ketika Ketaatan Mengundang Pertolongan

Apa hasilnya?

Pasukan Usamah kembali dengan selamat, bahkan membawa kemenangan. Kemenangan ini mengguncang seluruh Jazirah Arab.

  • Kaum murtad mulai runtuh
  • Pemberontakan melemah
  • Musailamah al-Kadzdzab akhirnya tumbang

Sejarah mencatat: Islam tidak selamat karena jumlah pasukan, tetapi karena kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ.


Refleksi untuk Kita Hari Ini

Kemurtadan tidak selalu berarti keluar dari Islam. Kadang ia hadir lebih halus:

  • “Ini sudah tidak relevan.”
  • “Harus disesuaikan zaman.”
  • “Yang penting niatnya baik.”

Abu Bakar mengajarkan sebaliknya:

  • Ketaatan didahulukan, bukan hasil
  • Kesetiaan didahulukan, bukan logika semata

Dan sejarah pun bersaksi:

“Islam bertahan bukan karena kompromi, tetapi karena tidak menawar sunnah Rasulullah ﷺ.”